Selasa, 27 Agustus 2013

Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal (Betapa Besar Cinta Kasih terhadap Umatnya)

 Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal 





Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratul maut.
'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku".

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?".

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. 
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.


"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."


Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia,
tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak

Senin, 19 Agustus 2013

Terlambat Eksekusi Terpidana Korupsi, Mahasiswa Demo Kajari

Terlambat Eksekusi Terpidana Korupsi, Mahasiswa Demo Kajari

Diposting Pada 02 Nov 2012
BEKASI_DAKTACOM: Kegagalan Kejaksaan negeri Bekasi mengeksekusi di terpida korupsi dana konpensasi TPA Bantargebang, membuat sejumlah kalangan jengkel. Bahkan mahasiswa sudah dua kali mendemo Kejaksaan agar segera menangkap terpidana Bagas dan Wahyu.
Namun sampai saat ini kedua terpidana yang sudah mendapat kekuatan hukum itu belum diketahui batang hidungnya. Kejaksaan dinilai terlambat untuk melakukan eksekusi sehingga kedua terdakwa melarikan diri hingga sekarang.
Karena belum juga tertangkap, Dewan Presidium Mahasiswa Pranata Indonesia kembali mendemo Kejaksaan Negri Bekasi. Tuntutannya sam dengan demo sebelumnya yaitu menuntut kejaksaan untuk segera menangkap terpidana korupsi dana konpensasi TPA Bantargebang.
“Aksi ini, merupakan aksi lanjutan beberapa waktu lalu yang menuntut segara ditangkapanya Bagas dan Wahyu,” kata Hasan, korlap aksi, Jumat (2/11/12).
“Kita merasa kejari kurang cepat mengeksekusi terpidana. Padahal saat putusan Mahkamah Agung (MA) turun kedua terpidana masih berada di Bekasi. Kini kedua terpidanna sudah berstatus buronan. Tapi sayang hingga kini belum juga tertaangkap” teriak Hasan kesal.
Oleh karena itu mahasiswa mendesak Kejaksaan untuk segera menangkap Bagas Subarnowo dan Wahyu Mulyana. Mahasiswa juga mempertanyakan sudah sejauhmana uapa Kejaksaan menangkan ke dua terpidana.
“Kajari harus transparan dalam menangani kasus korupsi ,agar masyarakat juga tau sampai sejauh mana kasusnya bergulir, kalo berani segera gelar konferensi pers”, tandasnya.
Lebih rinci Hsan menyampaikan tuntutan para mahasiswa kepada kajari yaitu;
1. Kejari diminta jangan main mata dengan setiap kasus hukum yang    ditangani.
2. Dalam waktu 3 kali 24 jam segera melakukan tes urin dan darah    kepada seluruh pegawai dan hasil tes dipublikasikan kepada    masyarakat.
3. Kajari harus cepat mengusut dugaan kasus korupsi tpa sumur batu
4. Kejari dituntut transparan dengan semua kasus yang ditangani    kejaksaan negeri Bekasi
Dalam aksi demo itu para mahasiswa sempat membakar ban bekas di depan kantor kejaksaan. Namun aksi tersebut tidak berlangsung lama karena pihak aparat kepolisian segera membubarkan aksi tersebut.
Akibat aksi itu jalan pramuka sempat mengalami kemacetan karena aksi bakar ban bekas dilakukan di tengah Jl. Pramuka.
Seperti diberitakan dakta.com Bagas Subarnowo dan Wahyu Mulyana sudah diputuskan bersalah dengan hukuman 2 tahun penjara perbuatannya mengkorupsi dana konpensasi TPA Bantargebang yang merugikan negara Rp 1,3 milia.
Kaajari juga sudah menetapkan dua tersangka kasus korupsi TPA sumur batu berinisial MA dan AS pada pembebasan lahan zona 5 TPA milik kota Bekasi tersebut.***
Editor           : Imran Nasution
Reporter     : Bayu Samudra