| Ditulis oleh Era Baru |
|
Ayahnya, Ariston adalah keturunan raja terakhir
Athena. Ibunya, Perictione adalah keturunan Solon, seorang aristokrat
reformis yang menulis undang-undang tentang demokrasi Athena. Kehidupan
Plato dalam lingkungan aristokrat membuatnya cukup dikenal di kalangan
pejabat tinggi Athena, walau ia seorang yang pendiam dan dingin.
Pemikiran
filsafatnya sangat dipengaruhi oleh gurunya, Socrates, yang telah
mengajarinya selama 8 tahun. Hingga saat sang guru diadili dan dihukum,
ia masih berusia 28 tahun. Setelah Socrates meninggal pada tahun 399 SM,
karena terancam jiwanya akibat perang saudara kaum aristokrat dan kaum
moderat serta diliputi kesedihan sepeninggal gurunya, Plato meninggalkan
Athena bersama sahabat-sahabatnya. Mulai saat itulah ia melakukan
perjalanan ‘filosofi’ ke berbagai kota. Hingga saat ia kembali ke
Athena, ia membeli beberapa lahan di luar benteng kota Athena yang
dikenal dengan nama Grove of Academus (Hutan Academus). Di sinilah awal
dari tumbuhnya sekolah yang terkenal yang dinamakan Akademi. Akademi ini
merupakan cikal bakal universitas Abad Pertengahan dan Abad Modern yang
selama 900 tahun menjadi sekolah yang mengagumkan di seluruh dunia.
Selama
sisa hidupnya ia tidak menikah, waktunya selama 40 tahun banyak
dihabiskan untuk mengajar dan menulis di Akademi. Walau setelah 20 tahun
mengajar ia sempat ke Syracuse, untuk mendidik raja muda, Dionisius II
menjadi seorang raja filosof, yakni filosof yang menjadi raja atau raja
yang belajar filsafat. Ini berkaitan dengan misi hidupnya mencapai
cita-cita bagi perkembangan filsafat sejati dan pendidikan bakal raja
filosof di Akademi. Baginya raja dengan pengetahuan yang baik akan mampu
mengetahui kebenaran, keadilan sejati sehingga mampu menjalankan
pemerintahan terbaik. Sebuah cita-cita yang di suatu masa di kemudian
hari banyak memberi pengaruh terhadap raja-raja Eropa. Selepas itu ia
kembali ke Akademi hingga meninggal dunia pada tahun 348 SM dalam usia
80 tahun.
Teori Idea
Plato
memandang bahwa kehidupan ideal adalah kehidupan pikir, harmoni adalah
idealitas jiwa manusia. Artinya bahwa akal sebagai dasar, pengendali,
pengatur bagi setiap pemahaman. Ia seorang rasionalis seperti halnya
Socrates. Realitas pada dasarnya terbagi ke dalam realitas yang dapat
ditangkap oleh indera (kasat mata) dan realitas yang hanya dapat
dipahami oleh akal. Segala yang nyata dalam alam bersifat mengalir,
dapat hancur, dapat terkikis oleh waktu, karena terbuat dari materi yang
dapat ditangkap oleh indera. Ini dikenal dengan sebutan dunia materi.
Sedangkan
ada realitas di balik dunia materi yang di dalamnya tersimpan pola-pola
yang kekal dan abadi tak terkikis oleh waktu yang dikenal dengan dunia
ide. Dunia ide ini hanya dapat ditangkap oleh akal. Dunia ide inilah
dunia yang sebenarnya. Dalam analogi mitos gua Plato, realitas yang
sebenarnya berada di dunia terang di luar gua, bukan bayang-bayang
dinding gua dari benda yang sebenarnya. Fenomena alam hanyalah
bayang-bayang dari bentuk atau ide yang kekal.
Ide Kebahagiaan
Boleh
dikatakan bahwa Plato memandang akal sebagai sarana untuk menangkap
pengetahuan mengenai segala sesuatu idea dalam realitas, seperti ide
kebaikan, ide kebahagiaan dan ide keadilan. Ide kebaikan tertinggi
manusia adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang bersifat absolut,
abadi dan kekal, bukan kesenangan karena kesenangan hanyalah sekadar
memuaskan nafsu badaniah semata. Lalu dari mana kebahagiaan terbentuk?
Dalam
konsep Plato, dibandingkan dengan makhluk lain, manusia mempunyai
esensi atau bentuk yang tidak sederhana, akan tetapi manusia tersusun
dari beberapa elemen yang mengimbangi berbagai kapasitas atau fungsi
lainnya. Kemampuan untuk berpikir merupakan kapasitas dan fungsi yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Elemen akal ini merupakan hal
yang paling penting. Elemen lainnya terdiri dari nafsu badaniah, yakni
hasrat dan kebutuhan dan elemen rohani yang terungkap dalam bentuk
emosi, seperti kemarahan, ambisi, kebanggaan, kehormatan, kesetiaan, dan
keberanian.
Ketiga elemen tersebut yang terdiri
dari akal, rohaniah dan nafsu badaniah disebut dengan jiwa tripartit.
Rasa kebahagiaan manusia sebagai kebaikan tertinggi bersumber dari
sifat-sifat alaminya yang berfungsi sebagai penyeimbang dari pemenuhan
kebutuhan ketiga elemen yang membentuk manusia. Oleh karena itu, karena
memiliki jiwa tripartit inilah maka kebaikan tertinggi bagi manusia
adalah rasa tenteram atau kebahagiaan. Kebahagiaan didapat dari tiga
pemenuhan tiga bagian jiwa di bawah aturan dan kendali akal. Dari ketiga
elemen tersebut penggunaan akal sebagai sarana berpikir adalah yang
paling penting dalam esensinya sebagai manusia. Dalam hierarki berada
pada tingkat tertinggi. Nafsu badaniah berada pada tingkatan paling
rendah, sedangkan elemen rohaniah berada pada tingkatan menengah. Inilah
yang dikenal sebagai teori diri atau kepribadian tripartit milik Plato.
Harmoni Tripartit
Dengan
demikian dari ketiga elemen tidaklah boleh dihilangkan atau diabaikan
salah satunya dalam mencapai kebahagiaan. Harmoni atau keseimbangan
pemenuhan di antaranya dengan akal sebagai pengarah rohani dan nafsu
maka seseorang bisa memuaskan sifat alami manusia yang kompleks. Dan
jika setiap elemen mampu berfungsi dalam kapasitas dan perannya
masing-masing sesuai dengan bangunan diri, maka kehidupan orang seperti
ini bisa dikatakan bijak dan mengalami keadilan jiwa. Penggabungan
kepribadiannya menjadi ketenteraman dan kebahagiaan. Keharmonian di
antara elemen rasional dan tak rasional jiwa inilah yang harus dipahami,
karena berkaitan dengan sikap moral, moralitas seseorang.
Sebagai
gambaran misalkan ketika fungsi-fungsi akal terpenuhi sebagai
pengendali elemen jiwa lain, maka akal akan menampilkan kebajikannya,
yakni dalam bentuk kebijaksanaan. Pada saat elemen roh menunjukkan
fungsi kebencian, ambisi, maupun heroiknya dalam batas-batas tertentu,
maka elemen ini menunjukkan bentuk keberanian. Berani dalam cinta,
perang, maupun dalam persaingan. Elemen nafsu yang menampilkan fungsinya
secara benar, maka akan menunjukkan kebajikan karakternya, yakni
kendali diri. Yakni dengan menjaga kepuasan jasmaniah pada
batas-batasnya. Keseimbangan ketiga karakter kebajikan tersebutlah yang
mampu mengantar pada ide kebahagiaan.
Plato
menganalogikan dengan jelas tentang fungsi dan peran ketiga elemen
dengan analogi lain. Misalkan elemen akal adalah manusia, elemen roh
adalah singa, dan elemen nafsu badaniah adalah naga berkepala banyak.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara membujuk singa agar membantu
manusia menjaga naga hingga tetap dapat diawasi? Tentu saja dengan peran
sebagai ‘pawang’ manusia harus mampu menjaga harmoni serta
mengendalikan singa dan naga. (Mat/dari berbagai sumber)*
|
Sabtu, 09 Maret 2013
PLATO
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar